Friday, October 24, 2008

Install Windows XP ke Hard Disk SATA

Pernahkah kamu mencoba meng-install Windows XP ke hard disk SATA[1]? Jika menggunakan CD original pasti tidak akan pernah berhasil. Setelah loading driver-driver, pasti akan muncul pesan error bahwa tidak ada hard disk yang terbaca. Ini karena dalam Windows XP tidak ada driver hard disk SATA. Windows XP dirilis pertama kali pada tahun 2001, sedangkan hard disk SATA dirilis pertama kali pada tahun 2003. Nah, karena itu, Windows XP belum memuat driver hard disk SATA dan tidak bisa membacanya. Anehnya, Microsoft tidak menyertakan driver tersebut di Windows XP SP2 (kenapa ya?). Kalau di SP3 saya tidak tahu. Untuk mengatasi masalah ini, ada dua trik yang cukup populer (kalau langsung pakai Windows XP Edisi Ireng atau bajakan sih namanya bukan trik). Pertama, menggunakan floppy disk berisi driver hard disk SATA. Kedua, membuat salinan CD Windows XP yang sudah ditambahi driver hard disk SATA. Cara kedua lah yang lebih sering digunakan, karena floppy disk sedang menuju ke kepunahan, apalagi di notebook zaman sekarang tidak ada drive-nya. Di sini saya hanya akan berbagi cara yang kedua saja. Sebelum memulainya, siapkan peralatan dan bahan yang diperlukan dulu, yaitu aplikasi nLite, CD Windows XP original, CD kosong, komputer yang akan di-install, komputer yang sudah ada OS-nya (harus Windows karena untuk menjalankan nLite) untuk membuat salinan CD (bisa pinjam komputer teman), driver SATA AHCI[2] (kalau chipset motherboard-nya Intel 965, misalnya Compaq Presario V3908TU dan Acer Aspire 4920, bisa pakai ini), dan Al-Qur’an (jangan bingung dulu, nanti tahu kok manfaatnya). Masing-masing satu buah saja. Berikut ini cara membuat salinan CD Windows XP dengan ditambahi driver hard disk SATA. Tentunya menggunakan komputer yang sudah ada OS-nya.
  1. Salin isi CD Windows XP ke dalam hard disk.
  2. Install nLite. Membutuhkan .NET Framework 2.0 atau versi setelahnya. Jika belum ada, install ini dulu.
  3. Jalankan nLite.
  4. Klik Next.
  5. Klik Browse.
  6. Pilih folder Windows XP hasil salinan.
  7. Klik Next.
  8. Klik Next.
  9. Pilih integrate drivers dan create bootable ISO.
  10. Klik Insert -> Single driver.
  11. Pilih iaahci.inf. Klik Open.
  12. Pilih mode Textmode driver dan pilih Texmode integration options yang sesuai. Jika untuk notebook, pilih saja semua yang mengandung kata mobile seperti pada gambar di bawah ini. Klik OK.
  13. Klik Next.
  14. Klik Yes untuk memulai proses penggabungan driver ke paket instalasi.
  15. Tunggu hingga selesai.
  16. Proses penggabungan sudah selesai, klik Next.
  17. Silakan ganti isian sesuai keinginan. Klik Burn.
  18. Klik Yes untuk memulai membakar CD.
  19. nLite sedang membakar CD. Ambil Al-Qur'an dan bacalah hingga proses pembakaran CD selesai. Lumayan lah, 10-15 menit, bisa 4-6 halaman.
  20. Pembakaran sudah selesai. Klik Next.
  21. Klik Finish. Selesai.
Fungsi aplikasi nLite ini sebenarnya banyak. Intinya adalah mengubah konfigurasi dan komponen dalam CD instalasi Windows 2000, XP, dan Server 2003. Untuk Windows Vista, gunakan vLite (dibuat juga oleh si pembuat nLite).
[1] SATA singkatan dari Serial Advanced Technology Attachment
[2] AHCI singkatan dari Advanced Host Controller Interface

Saturday, September 13, 2008

Notebook Baru Nih ...

Ini bener-bener baru, bukan seperti postingan sebelumnya. Hari Ahad lalu aku mengantar temanku beli notebook di BEC (standar banget sih, BEC). Notebook sekarang sepertinya sudah tidak ada lagi yang dipaketkan dengan Microsoft Windows XP. Oleh karena itu, aku sarankan untuk beli yang free DOS daripada beli yang ber-Vista tapi Vista-nya dihapus, kan sayang banget tuh, sudah beli mahal-mahal malah dihapus begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Sebelum pergi ke BEC dia sudah memutuskan untuk beli Compaq Presario V3908TU. Harganya Rp 7,6 juta. Setiba di BEC langsung deh menuju tempat sasaran dan langsung tembak aja itu notebook. Setelah dibuka kardusnya dan diteliti barangnya, eh, ada yang lecet di bagian engselnya, sedikit sih. Tapi aku cukup terkejut. Setelah temanku bilang bahwa ada yang lecet, penjaga tokonya mencari penggantinya langsung tanpa basa-basi. Weleh, weleh. Padahal, aku kira dia akan bilang, ini lecet sedikit, tidak apa-apa, nanti kalau sudah dipakai lama juga akan lecet. Hehe. Buruk sangka gitu. Dan karena di toko itu stoknya sudah habis, tinggal barang yang tadi dibuka saja, dia nelpon ke siapa, tidak tahu, nanya apakah di sana ada notebook seperti itu. Setelah telepon ditutup, dia bergegas keluar. Dan beberapa saat kemudian datang membawa notebook baru yang masih tersegel rapi. Weleh, weleh. Yang aku bingungkan, bagaimana nasib notebook yang lecet tadi. Akan dijadikan display atau akan diretur ke distributor. Ah, entahlah, pasti tidak merugikan toko tersebut. Terus kenapa banyak notebook yang dijadikan display yah? Apa tidak eman-eman tuh. Setelah barang baru tidak diproduksi lagi, terus barang yang dijadikan display diapakan yah? Berlanjut ke pembelian notebook. Karena kami akan install XP sendiri, kami hanya minta driver-driver yang diperlukan saja (daripada download sendiri, kan lama). Terus tiba-tiba penjaga toko yang satunya lagi, kali ini laki-laki, bilang bahwa XP original tidak bisa di-instal langsung ke notebook itu karena XP tidak mendukung hard disk SATA. Terus dia menjelaskan cara instal-nya, tapi harus pakai floppy disk. Bingung kan, bagaimana caranya floppy disk masuk ke notebook. Ya udah lah, dengarkan saja, aku yakin aku bisa mengatasinya. Dua hari kemudian temanku memberikan CD XP plus Office 2003 yang dibeli dari ComLabs. Dan acara penginstalan pun aku mulai setelah ada waktu di kosan. Ternyata benar, error. Hard disk tidak terdeteksi. Aku pun jadi ingat, beberapa hari yang lalu, temanku yang lain, Nanto, mengungkapkan masalah yang serupa dengan ini. Aku pun segera menggenggam ponsel, tapi bukan untuk nanya Nanto, melainkan buka Opera Mini, terus cari solusi masalah ini dengan bantuan Google. Langsung dapat lah satu artikel dari Softpedia yang menjelaskan cara instal XP di hard disk SATA tanpa bantuan floppy disk. Karena harus download aplikasi bernama nLite dan driver SATA, aku pun hentikan usaha instalasi. Download esok harinya saja di kampus. Esok harinya, selain download nLite dan driver SATA, aku juga cari tahu lebih lanjut mengenai cara instal ini. Nah, aku dapat artikel ini. Setelah melaksanakan petunjuk di situ, aku pun berhasil menanamkan Microsoft Windows XP SP2 ke dalam Compaq Presario V3908TU milik temanku. Alhamdulillah.

Tuesday, August 12, 2008

"Ketek"[1] Rampung, Laptop "Baru"

Alhamdulillah, aku sudah menyelesaikan kerja praktek. Aku cerita dulu deh kerja praktekku ini. Perusahaan tempat kerja praktekku adalah PT Mitra Solusi Telematika, anak perusahaan Trakindo Group, ATPM kendaraan berat Caterpillar di Indonesia. Waktunya cukup singkat, hanya 8 pekan kurang sehari. Tapi cukup untuk mendapatkan pengalaman kerja walaupun gajinya pas-pasan. Tapi walaupun gaji pas-pasan aku sempat membuat rekor makan termahal lho. Jauh lebih mahal daripada rekor sebelumnya yang dicetak di Bandung. Nah, di tengah-tengah masa KP, satu-satunya komputer yang aku punyai rusak. Awalnya kipas mati, alhasil komputer jadi panas banget kalau tetap dipaksakan nyala. Dicek pakai aplikasi pendeteksi panas komputer (Speedfan), panasnya sampai 90-an °C. Dan kalau sampai batas suhu tertentu komputer akan menyelamatkan dirinya sendiri dengan cara shutdown sendiri. Waktu itu sih aku tetap maksa untuk menggunakan komputer itu. Ya mau gimana lagi, komputer kan wajib bagi anak IF untuk ngetik di text editor. Hehe. Jadi ingat beberapa bulan di awal kuliah dulu, belum punya komputer, repot. Setelah beberapa hari, akhirnya komputer itu benar-benar tidak mau menampakkan gambar ke layar. Eh, pernah dicoba terus bisa ding, tapi ya mati lagi. Dalam keadaan seperti ini untuk mengerjakan pekerjaan kantor terpaksa 2 komputer untuk 3 orang (aku dan 2 orang teman KP-ku). Setelah ada laptop nganggur di kantor, aku dipinjami. Waktu itu aku bingung. Masalahnya waktu aku beli komputer itu, orang tokonya bilang kalau rusak dibawa ke toko itu aja. Wah, berarti cuma garansi distributor atau toko dong, tidak ada garansi resmi (barang BM tidak ya?). Jadi ingat pas servis N-Gage di Nokia SC, orang sananya bilang katanya HP itu seharusnya dijual di Amerika alias masuk ke Indonesia secara tidak resmi. Nah, waktu itu kan aku ada di Jakarta, masa harus ke Bandung untuk klaim garansi komputerku. Aku pun coba tanya dulu ke HP SC di Jakarta. Aku bilang aku ga ada kartu garansinya. Terus orang sananya bilang bawa barangnya dulu aja ke sana. Alhamdulillah, Sabtu buka, tapi cuma sampai jam 1 siang. Perjalanan ke tujuan pun terasa berat. Turun dari halte busway Depkes, aku jalan di bawah terik matahari siang menuju ke Gedung Danamon (depan ITC Kuningan). Ternyata panas juga yang namanya Jakarta. Hasil akhirnya, saat ini beberapa komponen komputer yang sedang aku pakai ini dalam kondisi baru. Mainboard, baterai, dan heatsink tepatnya.
[1] Ketek = Kerja Praktek. Kok tidak baku ya?! Harusnya kan Kerja Praktik.

Saturday, May 17, 2008

Mengunduh Fedora 9 "Sulphur"

Pada hari Selasa 13 Mei 2008 Fedora 9 dirilis. Rilis ini tidak sesuai jadwal. Dalam jadwal (awal) Fedora Project, versi yang diberi codename Sulphur ini seharusnya dirilis akhir April 2008 (seingatku tanggal 29 April 2008). Beberapa saat setelah dirilis, installer(.iso)-nya pun sudah bertebaran di banyak FTP mirror di seluruh dunia--tapi di Indonesia belum ada. Mulai lah aku mengunduhnya (yang i386 dan x86_64 untuk media DVD).

Karena pekan ini banyak pekerjaan bukan rutin (misal: demo & review iterasi 3 tugas IF3262, tugas 4 IF3292, dan UAS IF3261) jadi aku mengunduhnya ke komputer ComLabs ITB dan aku tinggalkan. Pada hari pertama koneksinya lambat sehingga belum semuanya terunduh. Hingga akhirnya pada hari ini Sabtu 17 Mei 2008 aku mempunyai "waktu luang" di ComLabs. Aku pun melanjutkan pengunduhan. Berkas yang sudah diunduh sebelumnya (di komputer ComLabs) aku pindahkan dulu ke komputerku melalui perantara FTP ComLabs (soale HD eksternalku rusak) untuk dilanjutkan pengunduhannya. Rate-nya cukup menentramkan jiwa. Dan pada suatu saat bisa melebihi 3000 kbytes/s--luar biasa bukan untuk pengunduhan dari FTP di luar jaringan ITB. Kalau dirata-rata mungkin sekitar 250 kbytes/s. Ini sekrinsyot saat koneksi berada di masa kejayaan (yang tertangkap sekitar 2800 kbytes/s):

Setelah beberapa jam pengunduhan pun selesai.

Dua pekan depan adalah masa UAS. Setelah UAS pun masih ada tugas IF3211. Mungkin aku baru bisa menikmati Sulphur ini awal Juni. Setelah itu KP.

Kalau kamu juga ingin menikmati Fedora 9 ini, tidak bisa mengunduhnya, dan ingin mendapatkan installer-nya dalam bentuk CD/DVD; bisa hubungi aku via Y!M (lihat "Chat with Me" di sidebar).

Monday, May 12, 2008

Ikut-Ikutan ng-AXIS

Baru beli nomor AXIS setelah servis ponsel di BEC. Karena beli di gerai resminya di BEC, jadi dapat harga asli juga, Rp 6.000. Sebelum beli sih sudah sempat baca-baca artikel mengenai AXIS dari banyak situs/blog. Sebenarnya sudah tertarik sejak awal, tapi ada yang bilang bahwa sinyal AXIS di sekitaran Dago agak lemah. Akibatnya ya aku tidak jadi beli hingga suatu saat aku menemukan sebuah kartu SIM AXIS di depan ComLabs ITB, barangkali masih bisa digunakan internet gratisnya, pulsanya mendekati nol tidak masalah. Aku tidak akan mengambil pulsanya kok, jadi semoga tidak dosa. Astaghfirullah. Beberapa hari kemudian dicoba di kosan teman. Di sana sinyalnya kuat, termasuk UMTS/3G-nya. Alhasil koneksi lancar. Karena kosan dia dan kosanku dekat, aku pun jadi tertarik lagi untuk membeli nomor AXIS. Mungkin yang lemah di Dago yang jauh dari kosanku, Dago kan panjang.

Setelah punya waktu luang di kosan sendiri, aku pun mencoba menggunakan AXIS. Setelah dipasang di ponsel, langsung disuruh registrasi 4444. Sekarang keren ya, metodenya seperti itu. Atau cuma AXIS tok? Setelah siap, eh, sinyalnya buruk sekali. Dan sesungguhnya ini adalah seburuk-buruknya sinyal di kosanku (aku pernah menggunakan Kartu AS, Xplor, dan tentunya IM3). Disambungkan ke komputer pun tidak bisa membuat koneksi menggunakan AXIS UMTS maupun GPRS. Ya sudah lah, lain kali dicoba lagi.

Hingga akhirnya malam ini aku menggunakan AXIS kembali. Kali ini lumayan, bisa konek baik UMTS maupun GPRS walaupun masih tetap lemah. Koneksi UMTS-nya masih lambat (secara teori bisa mencapai 384 kbps). Plus tidak stabil, sering terputus. Ini tampilan Sony Ericsson PC Suite untuk koneksi UMTS:

Dites menggunakan speedtest.net hasilnya:

Sedangkan koneksi dengan GPRS cukup stabil, tidak putus-putus, tapi ya begitu lah GPRS, lebih lambat daripada UMTS. Secara teori sih rate-nya 32-48 kbps untuk class 10 dan 12 (ponselku mendukung GPRS class 10, tapi tidak tahu apakah AXIS juga mencapai class 10). Tampilan Sony Ericsson PC Suite untuk koneksi GPRS:

Hasil dari speedtest.net:

Untuk keperluan pengujian, jaringan pun digonta-ganti. Pada saat pengunggahan gambar screenshot pc suite jaringan yang digunakan adalah GPRS.

Seperti terlihat pada gambar dari speedtest.net, pengujian di atas dilakukan sekitar jam 1 dini hari WIB dengan server tujuan di Jakarta. Sebelum pengujian itu koneksi lebih lambat lagi. Mungkin jaringan masih ramai.

Nah, ini yang mantap, tes koneksi UMTS sekitar jam 3 dini hari WIB:

Jadi, mungkin kapasitas jaringannya memang belum besar. Kalau jam sibuk masih kalah dengan provider lain. Semoga bisa ditambah lagi kapasitasnya serta biaya GPRS dan UMTS-nya tidak mahal jika sudah tidak promosi (gratis seperti ini) lagi.

Sekian laporan dari studio Sangkuriang 10 Bandung. Selamat sahur dan puasa.

Tuesday, April 29, 2008

Hari Tanpa Ponsel Sedunia

Tahukah kamu kapan itu? Tidak tahu kan? Aku juga tidak tahu sih. Tapi yang jelas, hari ini aku tidak menyentuh barang itu sedetik pun. Mungkin baru 2 hari lagi aku baru menyentuh barang itu kembali. Kemarin sekitar jam 11 aku ke Sony Ericsson Service Center di BEC, untuk memperbaiki ponselku, SE K800i, yang sudah rusak joystick-nya. Sebenarnya sih sudah lama rusaknya, tapi malas mau diperbaiki karena tidak ada ponsel kedua dan juga aku tidak ingin kehilangan isi-isi ponsel yang penting yang tersimpan di memori ponsel, seperti kontak dan pesan. Untuk kontak sih bisa di-backup ke memori stick, tapi tidak bisa untuk pesan. Aku pun berpikir untuk menginstal PC suite di komputer ComLabs karena tidak bisa di Windows Vista. Belum sempat meng-install-nya, kata temanku di PC suite Sony Ericsson tidak ada fitur backup pesan. Beberapa hari kemudian, aku ke situs Sony Ericsson dan alhamdulillah, PC suite terbaru sudah bisa dipakai di Windows Vista. Setelah di-install, alhamdulillah lagi, bisa "backup"[1] pesan. Tapi sayang, pesan-pesannya disimpan satu per satu ke dalam berkas teks. Jadi, berkasnya banyak banget. Oleh karena itu, baru bisa kemarin aku membawanya ke service center. Itu pun terpaksa karena masa garansi akan habis esok harinya (hari ini). Untung, tugas IF3292 membuat catur yang deadline-nya jam 17 hampir selesai. Aku serahkan kelanjutannya kepada kedua rekan kelompokku. Deadliner juga aku dalam hal begini[2]. Beberapa bulan yang lalu pun aku memperbaiki printer Canon iP1700 punyaku satu hari (kerja) sebelum masa garansi habis walaupun sudah lama rusak. Hehe.
[1] Diberi tanda petik karena bukan backup biasa (kok BBB ya?) yang ada restore-nya.
[2] Tapi tugas membuat caturnya tidak terlalu deadliner. Hehe.

Wednesday, April 23, 2008

Makan di Pizza Hut Pertama Kali

Senin kemarin aku ikut silaturahim Tim CIC (ComLabs IT Course) pertama kali sejak aku bergabung dengan mereka. Aku merupakan anggota baru di tim ini. Baru akhir bulan Februari kemarin aku gabung di tim pengembang sistem informasi CIC. Senin sore kami berkumpul dulu di ComLabs. Pukul 17.45 kami baru berangkat dengan tujuan Jonas Studio dan Pizza Hut Dago. Sampai di Jonas pukul 17.55. Di sana pun kami menunggu antrian untuk pemotretan hingga pukul 19.00. Setelah selesai kami meluncur ke Dago untuk makan Pizza Hut. Aku punya agenda lain yang cukup penting ba'da isya. Bagaimana ini? "Ah, nanti nyusul aja deh." pikirku. Pas lagi makan, aku mendapat pesan singkat dari teman bahwa agenda yang dimaksud di atas dibatalkan. Bisa tenang deh. Baru kali ini aku masuk ke Pizza Hut dan makan di sana. Tapi kalau makan produknya sih pernah, dulu. Sudah lama banget sih, waktu masih SMP kalau tidak salah. Waktu belum ada mall di Tegal. Waktu Tegal belum seramai sekarang. Waktu itu ayahku beli dari Cirebon (padahal beliau tidak suka lho), kota terdekat dari Tegal yang ada mall-nya kala itu. Sampai rumah, ya ..., begitu lah. Baru kerasa bedanya pas makan kali ini. Enak sih..., tapi jangan dibiasakan lah. Tidak baik. Makan di McDonalds pun aku baru satu kali, di Jogja bersama teman-teman pas mau UM-UGM. Kalau KFC sih lumayan sering dulu, bareng teman-teman juga, dan makan di KFC terakhir kali sekitar satu setengah tahun lalu. Aku tidak pernah makan bersama keluarga di tempat seperti itu, seingatku. Makan makanan seperti ini memang bukan budaya keluargaku. Kami lebih menyukai makanan lokal, terutama Jawa. Lha wong waktu keluarga melancong ke Bandung aja lebih mengutamakan makan di warung milik orang Jawa. Sampai sekarang pun kami masih suka makan sega lengko, sega langgi, ponggol setan, yang harganya sangat murah sekali. Dan juga makanan khas Tegal lainnya seperti soto Talang. Kalau ke Solo atau Wonogiri, baru sate kambing khas daerah sana. Beruntung lah aku dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang sederhana, tidak suka hidup berlebih-lebihan. Di Bandung pun aku masih cukup bisa menjaga hati untuk hidup sederhana.