Thursday, October 25, 2007

Kehilangan Rp 1,2 Juta

Pada tanggal 2 Oktober 2007 saya menyetor uang sejumlah Rp 1,5 juta ke rekening Shar-E saya. Namun, karena ada masalah jaringan, data setoran tidak langsung dimasukkan ke dalam database sistem informasi mereka. Dua hari berikutnya saya juga menyetor uang sejumlah Rp 13 juta ke rekening tersebut. Kedua transaksi tersebut dilakukan di Bank Muamalat Cabang Salman Bandung. Rp 13 juta? Hmmm.... Uang sebanyak itu bukan milik saya, melainkan milik Departemen Ekonomi Gamais. Itu semua hasil dari penjualan barang-barang perlengkapan kuliah. Saya simpan di bank karena cukup banyak dan juga beberapa hari berikutnya akan pulang ke Tegal. Pada tanggal 5 Oktober 2007 saya pulang ke Tegal. Belum lama menikmati liburan di sana, saya sudah mendapat amanah lagi. Saya disuruh mentransfer uang hasil penjualan barang-barang perlengkapan kuliah sejumlah Rp 1,5 juta ke rekening salah seorang teman saya. Selain itu, saya juga masih menyisakan tugas yang belum selesai, yakni memberikan uang juga sejumlah Rp 7 juta kepada teman saya yang lain untuk membayar buku dari Erlangga yang kami jual. Pada tanggal 8 Oktober 2007 saya bermaksud mengambil uang Rp 1,5 juta dari rekening Shar-E saya di ATM BNI untuk ditransfer ke teman yang pertama (rekening BNI). Mengapa tidak transfer langsung via ATM saja? Harusnya seperti itu ya? Dalam satu kali penarikan di ATM BNI maksimal Rp 1,2 juta. Jadi, saya memilih nilai maksimal ini terlebih dulu. Namun, setelah ditunggu, ternyata uang dari ATM tidak keluar (saya lupa alasannya apa). Saya sering mengalami hal ini sehingga tidak khawatir. Setelah itu, saya mencoba ke ATM BRI dan gagal juga. Akhirnya saya mentransferkan uang yang sudah tersedia di kantong saya dulu ke BNI dan suatu saat nanti diganti. Esok harinya saya berniat mentransferkan uang kepada teman saya yang kedua. Kali ini saya mencoba untuk mentransfer langsung via ATM BRI. Setelah dicoba, eh, gagal maning, gagal maning. Kemudian saya mencoba untuk mengambil uang Rp 100 ribu dan berhasil. Setelah melihat slip transaksi yang keluar dari ATM saya merasa terkejut. Di situ tercetak saldo rekening saya hanya Rp 13 jutaan. Bagaimana ini terjadi?! Jika ditelusuri dari dua setoran terakhir saja seharusnya sudah mencapai Rp 14,5 juta. Saya mengira setoran saya yang Rp 1,5 juta (yang dijelaskan di atas) belum dimasukkan ke database karena jika dihitung-hitung cukup tepat jumlahnya. Ya sudah lah, nanti dicek ketika di Bandung (karena slip transaksi ada di sana). Karena gagal transfer via ATM, saya memutuskan untuk mentransfernya langsung di Bank Muamalat. Cukup jauh lokasinya dari rumah saya, sekitar 13 km. Dan alhamdulillah, tugas transfer kedua ini sudah terselesaikan. Setelah liburan selesai, saya kembali ke Bandung. Kemarin, 24 Oktober 2007, saya pergi ke Bank Muamalat Cabang Salman Bandung dengan maksud untuk mengecek kejanggalan yang saya ceritakan di atas. Sembari menunggu giliran berhadapan dengan pegawai Customer Service (CS), saya mendengarkan pembicaraan antara pegawai CS dengan nasabah. Saya menangkap pembicaraannya mengenai kegagalan penarikan uang di ATM BNI yang tetap mengurangi saldo. Nah, saat itu juga saya tersadar bahwa perkiraan saya mengenai penyebab kejanggalan tadi kurang tepat. Saya menjadi berbalik curiga terhadap proses penarikan uang di ATM BNI. Setelah diperiksa, ternyata benar. Transaksi penarikan Rp 1,2 juta di ATM BNI yang gagal ini tetap tercatat. Setelah itu saya diberi lembar klaim permasalahan ini yang sebelumnya sudah diisi oleh pegawai CS untuk saya tandatangani. Semoga uang yang hilang tersebut kembali.