Wednesday, April 23, 2008

Makan di Pizza Hut Pertama Kali

Senin kemarin aku ikut silaturahim Tim CIC (ComLabs IT Course) pertama kali sejak aku bergabung dengan mereka. Aku merupakan anggota baru di tim ini. Baru akhir bulan Februari kemarin aku gabung di tim pengembang sistem informasi CIC. Senin sore kami berkumpul dulu di ComLabs. Pukul 17.45 kami baru berangkat dengan tujuan Jonas Studio dan Pizza Hut Dago. Sampai di Jonas pukul 17.55. Di sana pun kami menunggu antrian untuk pemotretan hingga pukul 19.00. Setelah selesai kami meluncur ke Dago untuk makan Pizza Hut. Aku punya agenda lain yang cukup penting ba'da isya. Bagaimana ini? "Ah, nanti nyusul aja deh." pikirku. Pas lagi makan, aku mendapat pesan singkat dari teman bahwa agenda yang dimaksud di atas dibatalkan. Bisa tenang deh. Baru kali ini aku masuk ke Pizza Hut dan makan di sana. Tapi kalau makan produknya sih pernah, dulu. Sudah lama banget sih, waktu masih SMP kalau tidak salah. Waktu belum ada mall di Tegal. Waktu Tegal belum seramai sekarang. Waktu itu ayahku beli dari Cirebon (padahal beliau tidak suka lho), kota terdekat dari Tegal yang ada mall-nya kala itu. Sampai rumah, ya ..., begitu lah. Baru kerasa bedanya pas makan kali ini. Enak sih..., tapi jangan dibiasakan lah. Tidak baik. Makan di McDonalds pun aku baru satu kali, di Jogja bersama teman-teman pas mau UM-UGM. Kalau KFC sih lumayan sering dulu, bareng teman-teman juga, dan makan di KFC terakhir kali sekitar satu setengah tahun lalu. Aku tidak pernah makan bersama keluarga di tempat seperti itu, seingatku. Makan makanan seperti ini memang bukan budaya keluargaku. Kami lebih menyukai makanan lokal, terutama Jawa. Lha wong waktu keluarga melancong ke Bandung aja lebih mengutamakan makan di warung milik orang Jawa. Sampai sekarang pun kami masih suka makan sega lengko, sega langgi, ponggol setan, yang harganya sangat murah sekali. Dan juga makanan khas Tegal lainnya seperti soto Talang. Kalau ke Solo atau Wonogiri, baru sate kambing khas daerah sana. Beruntung lah aku dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang sederhana, tidak suka hidup berlebih-lebihan. Di Bandung pun aku masih cukup bisa menjaga hati untuk hidup sederhana.